Categories
Berita

Manuver Dari BInali Memiliki Aturan Baru

Manuver pertama Binali Yıldırım adalah merombak aturan internal AKP. Burhan Kuzu, anggota parlemen senior dari AKP, mengatakan Yıldırım berencana mendorong ”paket perubahan mini konstitusi” partai semacam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga—mulai bulan ini. ”Erdogan diharapkan bisa kembali menjadi pemimpin partai,” ujarnya.

Sasaran kedua Yıldırım adalah konstitusi Turki. Seorang petinggi AKP menyebutkan partainya sedang menyiapkan ”revisi mini” konstitusi. Revisi menargetkan pasal yang mengatur afiliasi politik kepala negara. ”Aturan yang baru memungkinkan Erdogan menjadi ’presiden yang berafiliasi dengan partai’,” katanya. AKP berencana mengajukan draf rancangan undang-undang baru ke parlemen bulan ini.

Konstitusi Turki saat ini berlaku mulai 1982, dua tahun selepas kudeta militer. Sejak itu pro dan kontra sistem presidensial terus bergaung. AKP termasuk yang kencang menyuarakan perlunya konstitusi baru—tema yang kerap menjadi berita utama dua tahun terakhir. Di antara yang dijadikan dalih adalah kenyataan bahwa Turki, dengan sistem parlementer, telah menggelar pemilihan langsung presiden.

Untuk mengganti dasar negara, AKP perlu mengusulkan referendum nasional. Di sini muncul masalah. Di parlemen, partai penguasa ini belum menjadi ”super-mayoritas”. Dari pemilihan umum November 2015, AKP meraup 49,5 persen suara, setara dengan 317 dari 550 kursi parlemen. Untuk mengusulkan referendum, AKP memerlukan 330 kursi. ”Tapi mengubah konstitusi untuk sistem presidensial diperlukan 367 kursi,” tulis kantor berita Anadolu. Kini Yıldırım mesti bergerilya melobi dukungan partai lain.

Selain dihuni AKP, parlemen dihuni Partai Rakyat Republik (CHP, 134 kursi), Partai Demokrasi Rakyat (HDP, 59 kursi), dan Partai Gerakan Nasional (MHP, 41 kursi). Hanya, menurut World Bulletin, ”Tak satu pun dari tiga partai oposisi di parlemen itu mendukung sistem presidensial.” CHP, partai oposisi utama di Turki, paling keras menentang manuver Erdogan. CHP menuding Erdogan selama ini memerintah seperti diktator.

Levent Gok, salah seorang pentolan CHP, mengatakan penambahan kekuasaan presiden hanya akan menjadikan Erdogan semakin otoriter. ”Negara ini tidak dapat dikorbankan untuk ambisi satu orang.” Namun, bagi Yıldırım, tidak ada alasan untuk gagal mengawal transisi. Sebagai sekutu setia, Yıldırım telah bersumpah mewujudkan ambisi Erdogan. Ia bahkan baru-baru ini menyebut dirinya dan semua kader AKP sebagai ”kamerad Erdogan”. ”Keinginan Anda (Erdogan) adalah semangat kami. Tujuan Anda adalah jalan kami,” ujar Yıldırım.

Website : kota-bunga.net

Categories
Berita

Dari Kolam Politik Di AKP Tidak Setuju

Dari kolam politik di AKP, Erdogan dan Yıldırım bahu-membahu di tataran eksekutif. Dari catatan sepak terjang itu, publik Turki mengenal Yıldırım sebagai loyalis Erdogan. ”Yıldırım dipilih menjadi pemimpin AKP dan perdana menteri bukan karena kemampuannya, melainkan lantaran sikap penurutnya kepada Presiden,” kata Wolfango Piccoli, Ketua Teneo Intelligence, lembaga riset yang berbasis di London, Inggris. Tiga periode sebagai perdana menteri rupanya tak cukup bagi Erdogan.

Pria 62 tahun ini masih ingin mencengkeram kekuasaan. Tapi ambisinya itu justru ”terganjal” oleh AKP, yang hanya mematok tiga PASANG BADAN LOYALIS ERDOGAN kali masa jabatan ketua umum. Di Turki, pemimpin partai berkuasa otomatis menjadi perdana menteri. Erdogan telah menghabiskan jatah memimpin AKP. Selain itu, pada Agustus 2014, Erdogan mundur dari AKP karena mencalonkan diri sebagai presiden. Ia menyerahkan kursi Ketua Umum AKP kepada Ahmet Davutoglu.

Saat itu Erdogan sukses meraup 52 persen suara dan dinobatkan sebagai presiden pertama Turki dari hasil pemilihan langsung. Ia terpaksa memutus hubungan dengan partai karena konstitusi mengatur bahwa presiden harus netral secara politik. Sejak itu, Davutoglu, 57 tahun, yang sebelumnya menjabat Menteri Luar Negeri, mengisi kursi perdana menteri. Namun hubungannya dengan Erdogan hanya seumur jagung. Pada awal Mei lalu, Davutoglu, profesor politik dan diplomat kawakan, memilih mundur.

Ia pecah kongsi dengan Erdogan dalam sejumlah isu domestik dan luar negeri. Mundurnya Davutoglu merupakan puncak ketegangan hubungannya dengan Erdogan. Sejak beberapa bulan lalu Davutoglu, akademikus yang dikenal idealis, diketahui menentang ambisi Erdogan untuk memperkuat wewenang presiden. ”Saya memutuskan lebih tepat bagi kesatuan (AKP) untuk mengganti pemimpin,” ujar Davutoglu kala itu.

Untuk isu luar negeri, Erdogan dikabarkan terganggu sepak terjang Davutoglu. Ia dianggap sukses mengawal negosiasi dalam isu pengungsi dengan Uni Eropa. ”Erdogan cemburu kepada Davutoglu dan khawatir ia menjadi terlalu mandiri,” demikian CBC News, yang menulis bahwa Erdogan berhasrat tampil sebagai penguasa tunggal di Turki.

l l l DALAM sistem parlementer di Turki, kepala negara hanya berkutat di seputar urusan seremonial. Bagi Erdogan, yang telah menancapkan pengaruh kuat selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, kursi presiden tidak cukup. ”Yıldırım diharapkan secepat mungkin mengubah sistem pemerintahan di Turki,” demikian menurut The Australian.